Ayu Komala Sari ^^. Diberdayakan oleh Blogger.
RSS
Tampilkan postingan dengan label Lap Fisiologi Tumbuhan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lap Fisiologi Tumbuhan. Tampilkan semua postingan

Enzim


       I.            TUJUAN PRAKTIKUM
Tujuan praktikum kali ini adalah mengkaji pengaruh konsentrasi enzim terhadap laju reaksi kimia di dalam tanaman

    II.            ALAT DAN BAHAN
Bahan   : kecambah kacang hijau ( Phaseolus radiate)berumur 3 hari, larutan amylum 0,4%, dan larutan JKJ.
Alat      : penumbuk porselin, gelas ukur, tabung reaksi, centrifugase, dan lempeng penguji.

 III.            CARA KERJA
Ø  Pilih 50 kecambah kacang hijau yang baik,tumbuk sampai halus dengan penumbuk porselin, lalu larutkan dalam 100 ml air suling di tabung reaksi.
Ø  Lakukan sentrifugasi larutan yang ada di dalam tabung reaksi
Ø  Dengan pipet, ambil 2,5 ml larutan supernatant dengan konsentrasi 100% letakkan di dalam tabung reaksi. Tambahkan 1 ml  amylum kedalm larutan supernatant. pada saat pencampuran ini ditetapkan sebagai waktu nol.
Ø  Tiap 30 detik, ambil satu tetes larutan letakkan di lempeng penguji. Teteskan larutan JKJ secepatnya. Hidupkan stopwatch, amati setiap perubahan warna dan catat waktu yang diperlukan.
Ø  Ulangi langkah 3-4 sampai 3x pengulangan
Ø  Lakukan hal yang sama untuk larutan 75%, 50%, dan 25%.


  

  IV.            TINJAUAN PUSTAKA

Sel –sel yang perannya identik dengan pabrik-pabrik kimia yang bergantung pada ketersediaan energi. secara kolektif reaksi-reaksi kimia yag memungkinkan adanya kehidupan dan sering kita sebut dengan metabolisme .

Beribu-ribu reaksi tersebut berlangsung secara terus menerus didalam sel. Dengan adanya reaksi-reaksi tersebut banyak senyawa organik yang disintesis tumbuhan . Semua ini dengan pengertian sel dapat mengatur lintasan metabolik yang dikehendakinya , hal ini memungkinkan untuk mngatur dan terjadinya kecepatan reaksi tersebut dengan cara memproduksi katalisator dengan jumlah yang sesuai dan pada saat yang dibutuhkan.
Katalisator tersebut yang kemudian disebut dengan enzim .

Enzim adalah suatu protein yang dihasilkan oleh sel-sel hidup yang mampu mempercepat proses transpformasi kimia khusus, seperti hidrolisis , oksidasi atau reduksi. Dalam proses tersebut enzim tidak mengalami perubahan , sehingga enzim hanya berperan sebagai katalisator biologis. Enzim hanya bersifat spesifik , artinya spesifik untuk substrat tertentu (molekul reaktan) beberapa enzim bekerja pada tipe ikatan tertentu, sehingga enzim jenis ersebut dapat bekerja pada banyak substrat yang memiliki ikatan tertentu.

Enzim sebagai katalisator memiliki tingkat spesifikasi yang tinggi dalam mengkatalis suatu reaksi.salah satu tipe mekanisme kerja enzim adalah pada saat mempercepat reaksi penggubahan substrat adalah dengan cara menurunkan energi aktifasi (Ea). Enzim mempercept laju reaksi antara108 -1020 kali.



     V.            HASIL DAN PEMBAHASAN

Ø  Hasil

Konsenterasi larutan (%)
Perubahan
30’ I
30’ II
30’ III
100
Bening
Kuning
Kuning Pekat
75
Bening
Agak Kuning
Kuning
50
Bening
Agak Kuning
Kuning
25
Bening
Bening agak hitam
Bening agak hitam


Ø  Pembahasan

Pada hasil pengamatan praktikum mengenai pengaruh konsentrasi enzim terhadap kecepatan reaksi yang telah kami lakukan menggunakan kecambah kacang hijau (Phaseolus radiatus) karena pada  saat berkecambah enzimnya aktif berkembang sehingga mudah untuk mengamati pengaruh konsentrasi enzym terhadap laju reaksi kimia di dalam tanaman dengan berbagai konsentrasi larutan  25%, 50%, 75%, dan 100%. Untuk pemuatan larutan dengan konsentrasi larutan 100% yakni dengan cara 2,5 ml larutan 100% dimasukkan dalam tabung reaksi dan ditambahkan 1 ml larutan amylum, saat percampuran ini ditetapkan saat nol. Dan hasil yang didapat dari pembuatan larutan dengan konsentrasi larutan 100%, perubahan anylum menjadi glukosa terjadi setelah ditetesi JKJ perubahan terjadi pada 30 detik yang kedua.gunanya enzim Amilase yaitu untuk membongkar cadangan makanan pada kecambah kacang hijau. Sedangkan untuk larutan dengan konsentrsi larutan 75%, 50%, dan 25% yang diperoleh dengan cara  yang yang hampir sama dengan pembuatan larutan dengan konsentrasi larutan 100% namun jumlah amylum yang diambil dikurangi. Setelah dilakukan pengamatan hasil yang didapat adalah untuk larutan dengan konsentasi 75% perubahan amylum menjadi glukosa terjadi pada 30 detik pertama. Pada larutan dengan konsentrasi larutan 50% perubahan amylum menjadi glukosa terjadi pada 30 detik yang ke dua. Sedangkan untuk larutan dengan konsentrasi 25% perubahan warna yang menandakan terjadinya perubahan amylum menjadi glukosa terjadi pada 30 detik ketiga. Dari data yang telah didapat dari pembuatan larutan dengan konsenterasi 75%, 50% dan 25% nampak sekali perbedaan yang terjadi yakni dengan bertambahnya waktu yang diperlukan untuk merubah amylum menjadi glukosa. Hal ini menunjukan bahwa perubahan warna atau perombakan amylum menjada glukosa yang terjadi tergantung dari jumlah amylum yang terkandung pada suatu konsentrasi. Tetapi hal ini tidak terjadi pada larutan dengan konsetrasi 100%, perubahan warna terjadi pada 30 detik yang kedua.

Semakin naiknya suhu, jumlah CO2 yang dibebaskan semakin sedikit. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya adalah faktor lingkungan. Oleh karena itu pada respirasi dapat dihitung CO2 yang dibebaskan karena pada respirasi reaksinya merupakan kebalikan dari fotosintesis. Dan suhu memegang peranan yang sangat penting karena terlihat bahwa semakin tinggi suhu, jumlah CO2 yang dibebaskan semakin sedikit. Temperatur mempunyai pengaruh besar pada kegiatan ini dan macam substrat juga mempengaruhi. Pada 00C srespirasi sangat sedikit. Pada suhu 370C maka sangatlah giat respirasi. Tetapi mungkin pada suhu diatasnya maka kegiatan repirasi hanya sebentar saja. Mungkin hal ini disebabkan oleh non-aktifnya enzim-enzim, bertimbun-timbun CO2 dan kurangnya O2 karena syarat kecambah ada substrat (karbohidrat) ditambah O2 maka hasilnya air.




  VI.            KESIMPULAN
Dari pengamatan yang telah kami lakukan terhadap kecambah kacang hijau untuk membuktikan pengaruh kadar enzim terhadap kecepatan reaksi. Dapat disimpulkan bahwa:

  1. Dari berbagai konsentrasi larutan waktu untuk merubah amylum menjadi glukosa memerlukan waktu yang berbeda-beda.
  2. pada konsentrasi larutan 75%, 50%,dan 25% waktu yang diperlukan untuk melakukan reaksi semakin lambat.
  3. semakin banyak amylum yang terkandung di dalam suatu laruatan maka semakin cepat proses perombakan dari amylum menjadi glukosa.






DAFTAR PUSTAKA

Dwidjuseptutro, D. 1985. Penghantar Fisiologi Tumbuhan. Pt. Gremedia. Jakarta.
Grander, Pearce dan R.L. Mithell. 1991. Fisiologi Tanaman Budidaya. Universitas Indonesia.  Jakarta.
Salisbury, frank B dan Ross, Clean W. 1995. Fisiologi Tumbuhan jilid 2. ITB. Bandung.
Kris usman. 2011. Penuntun Praktikum Dasar-Dasar Fisiologi Tanaman. Universitas Bengkulu. Bengkulu

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Auksin


BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Hasil interaksi yang kompleks antara tiga factor yang salingmempengaruhi, yaitu factor intraseluler /dari dalam sel, intraseluler dan lingkungan disebut pertumbuhan dan perkembangan pada suatu tanaman. Sementara itu, bila dilihat dari segi bentuk dan ukuran, kebanyakan dari tumbuhan ditentukan oleh factor herediritas. Faktor Gen inilah yang sangat  berpangarah pada setiap struktur tumbuhan dan juga terhadap perkembangannya. Factor heredisitas disebut sebgagai  factor intraseluler, sedangkan fakktor interseluler adalah hormon. Salah satu komponen yang terdapat dalam tanaman dan berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman disebut Hormon. Selain dari pada hormone, lingkungan juga merupakan factor penting yang berpengaruh terhadap pertumbuahan dan perkembangan, misalnya kelembaban uadara, air tanah dan mineral, suhu udara, dan cahaya
Hormon tumbuhan atau phytohormon adalah zat pengatur yang dihasilkan oleh tumbuhan yang dalam konsentrasi rendah mengatur proses-proses fisiologis dalam tubuh tumbuhan. Sedangkan zat pengatur tumbuh merupakan senyawa-senyawa organik selain nutrisi, baik yang dihasilkan sendiri dalam tumbuhan maupun senyawa-senyawa kimia sintetik yang dalam jumlah kecil memascu, menghambat atau sebaliknya merubah beberapa proses fisiologi dalam tumbuhan.

Dalam fisiologi tumbuhan dikenal ada lima zat pengatur tumbuh yaitu : auksin, gibberellin, cytokinin, ethylene dan abscisic acid. Pada suatu jaringan tumbuhan mungkin akan berisi lebih dari satu macam zat pengatur tumbuh dalam mengendalikan pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan. Pengaruh suatu zat pengatur tumbuh dalam tumbuhan dapat terjadi secara individu maupun berinteraksi bersama-sama dengan zat pengatur tumbuh yang lain, baik pengaruh yang bersifat sinergik maupun pengaruh antagonistic.
Auksin merupakan zat pengatur tumbuh yang banyak dihasilkan di jaringan-jaringan yang masih giat membelah, seperti bagian pucuk tumbuhan. Peranan auksin antara lain dalam pembelahan dan pembesaran sel serta diferensiasi sel. IAA, IBA merupakan suatu contoh jenis auksin yang dapat dihasilkan di luar tubuh tumbuhan itu sendiri. Perlakuan auksin pada stek batang tumbuhan diketahui dapat mempercepat, memperbanyak atau meningkatkan proses pembentukan akar pada stek tersebut. besarnya pengaruh auksin pada pembentukan akar stek ini dipengaruhi oleh konsentrasi auksin yang diberikan maupun media yang digunakan yaitu pasta lanolin atau talk.





1.2  Tinjauan Pustaka

Auksin adalah salah satu bentuk hormon yang paling banyak diteliti. Terutama berpengaruh terhadap pertumbuhan dengan merangsang perbesaran sel. (Sutarmi, 1985). F.W.Went, berhasil menemukan adanya zat yang dihasilkan oleh ujung tumbuhan dan yang berpengaruh besar terhadap pertumbuhan. Zat itu disebut zat penumbuh atau auksin.
Auksin berfungsi dalam pengembangan sel – sel yang ada di daerah belakang meristem. Sel – sel tersebut menjadi panjang – panjang dan banyak berisi air. Ternyata auksin mempengaruhi pengembangan dinding sel, di mana mengakibatkan berkurangnya tekanan dinding sel terhadap protoplas. Maka, karena tekanan dinding sel berkurang, protoplas mendapat kesempatan untuk meresap air dari sel – sel yang ada di bawahnya., karena sel – sel yang ada di dekat titik tumbuh mempunyai nilai osmosis yang tinggi. Dengan demikiankita peroleh sel yang panjang dengan vakuola yang besar di daerah belakang titik tumbuh.

Pada tanaman yang dibiakkan dengan stek, stek yang akan ditanam harus mempunyai tunas agar dapat menghasilkan akar. Sehingga harus ada sesuatu yang dihasilkan oleh tunas dan yang diedarkan ke daerah bawahnya, yaitu ke dasar pemotongan stek tersebut. Zat itu disebut juga auksin, atau ada yang menyebutnya rizokalin. Ternyata AIA dan beberapa zat lain yang dibuat di luar tubuh tanaman dapat menggantikan rizokalin tersebut.
Menurut Thimann dan Went (1928), sekalipun suatu stek itu tidak mempunyai tunas pada ujungnya, namun pembentukan akar dapat juga terjadi, asal diberikan AIA atau zat penumbuh yang lain
Hormon merupakan substansi yang sangit aktif. Hasil sekresi ini meskipun diproduksi dalam tubuh tetapi dipengaruhi oleh kondisi ekternal. Beberapa hormone memacu pertumbuhan, pembelahan, dan perpanjangan sel, tetapi adapula yang menghambat.  Aksin merupakan hormone pertumbuhan yang memacu perpanjangan sel, yang berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Pengaruh-pengaruh tersebut dalam hal sbb;





*      merangsang perkembangan akar leteral dan serabut sehingga meningkatkan penyerapan air dan mineral.
*      pembengkokan batang. Penyebaran auksin yang tidak merata pada batang akan menyebabkan perpanjangan sel yang tidak seimbangan. Batang yang membengkok memungkinkan tumbuhan menyesuaikan diri dengan baik terhadap lingkungannya. Misalnya, pembengkokan batang memungkinkan kecambah tumbuh menjauhui tanah dan tumbuhan ditempat gelap akan tumbuh kearah cahaya.
*      merangsang pembelahan sel cambium vaskuler sehingga menyebabkan pertumbuhan jaringan vaskuler sekunder.
*      menyebabkan diferensiasi sel menjadi xylem sehingga dapat meningkatkan trnsportasi mineral dan air.
*      meningkatkan perkembangan bunga dan buah.
Pertama kali Hormon Auksin diisolasi adalah indon asam asetat ( indole acetic acid, IAA). Sebagian besar IAA merupakan hasil sekresi organ tanman yang disebut titik tumbuh ; termasuk disini adalah ujung tunas, daun muda, bunga, dan buah. Selain itu, juga dihasilkan oleh sel-sel cambium dan ujung-ujung akar. Hasil sekresi tersebut kemudian diternslokasikan ke bagian-bagian lain. Bagian tanaman berbeda akan menunjukan reaksi yang berbeda terhadap auksin. Auksin dengan konsenterasi tinggi akan merangsang pertumbuhan batang, tetapi sebaliknya dengan konsenterasi tersebut akan menghambat pertumbuhan akar  ( moh. Amin . 1994 )

1.3  Tujuan percobaan
Mempelajari pengaruh aplikasi auksin terhadap pertumbuhan akar tanaman.





BAB II
BAHAN DAN METODE

2.1 Bahan Praktikum
Adapun bahan yang digunakan adalah larutan auksin mg/100 ml dan potongan cabang tanaman alamanda.

2.2 Metode Praktikum
1.      Membuat pengenceran auxin sebesar 0.1, 1.0, 10, dan 100 mg/ml.
2.      Ujung potongan cabang dimasukkan didalam larutan yang telah dibuat dan kelompok lain dimasukkan kedalam air suling.
3.      Menunggu selama 1-2 jam.
4.      Sementara menunggu menyiapkan larutan hara dan dimasukkan dalam botol-botol yang disediakan.
5.      Setelah 2 jam potongan-potongan cabang dipindahkan kedalam botol yang terisi larutan hara dan ditempatkan terang.
6.      Mengamati pertumbuhan akar setelah satu minggu, sementara itu larutannya ditambahkan air suling bila selama pengamatan jumlahnya berkutang. Memperhatikan jumlah akar dan panjangnya.







BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Hasil

            Table  Pengaruh Auxin Terhadap Pertumbuhan Akar.

Perlakuan
Pertambahan Setelah 2 Minggu
Jumlah Akar
Jumlah Panjang
100 ppm
0
0
10 ppm
6
3+2,5+2+1,5+1,4+1
1 ppm
4
1+1,5+1,3+0,8
0,1 ppm
0
0
Kontrol
2
0,5+0,5


3.2 Pembahasan
Hormon berasal dari bahasa Yunani; hormaein yang berarti menggiatkan. Hormon merupakan senyawa organik yang bekerja aktif dalam jumlah yang sedikit sekali, ditransportasikan ke seluruh tubuh tumbuhan dan mempengaruhi pertumbuhan atau proses-proses fisiologis lainnya. Sedangkan fitohormon ialah sekumpulan zat-zat yang membantu pertumbuhan, biasa disebut zat penumbuh atau hormon pertumbuhan.

Auksin atau asam indole-3-asetat (Indole-3-Acetic Acid = IAA) adalah auksin asli tumbuhan. Auksin terdapat dalam jaringan dalam konsentrasi yang sangat rendah, dengan asam amino triptofan merupakan prekursor utamanya. Hormon ini berpengaruh terhadap pertumbuhan dengan merangsang pembesaran sel. Dalam merangsang pembelahan sel dan perubahan-perubahan lainnya, auksin bekerjasama dengan hormon lain. Seorang ilmuwan bernama Went mendapatkan auksin pada ujung koleoptil kecambah sejenis gandum Avena sativa, kemudian diketahui bahwa ujung-ujung spesies lain juga mempunyai zat yang fungsinya sama dengan auksin tersebut; zat tersebut lalu diberi nama auksin-b. Auksin-b ini tidak mempengaruhi pertumbuhan spesies lain. Auksin-a (C18H32O5) mempengaruhi pertumbuhan Avena dan spesies lain.
Dari pengamatan yang telah dilakukan kelompok 3, maka telah diperoleh seperti data yang diatas. Pengamatan yang kami lakukan adalah pengaruh auksin terhadap pengaruh pemanjangan akar dengan konsenterasi 0,1, 1,0, 10, dan  100 ppm. Hormon auksin tersebut memiliki kemampuan atau peranan bagi tanaman;
(1).pembengkokan batang. Penyebaran auksin yang tidak merata pada batang akan menyebabkan perpanjangan sel yang tidak seimbangan. Batang yang membengkok memungkinkan tumbuhan menyesuaikan diri dengan baik terhadap lingkungannya. Misalnya, pembengkokan batang memungkinkan kecambah tumbuh menjauhui tanah dan tumbuhan ditempat gelap akan tumbuh kearah cahaya. (2) merangsang perkembangan akar leteral dan serabut sehingga meningkatkan penyerapan air dan mineral. (3) merangsang pembelahan sel cambium vaskuler sehingga menyebabkan pertumbuhan jaringan vaskuler sekunder. (4) menyebabkan diferensiasi sel menjadi xylem sehingga dapat meningkatkan trnsportasi mineral dan air. (5) meningkatkan perkembangan bunga dan buah.
Pada konsenterasi auksin yang tinggi dapat merangsang pertumbuhan batang, tetapi sebaliknya dengan konsenterasi tersebut menghambat pertumbuhan akar. Pengamatan pada kelomppok kami menunjukan gejala yang sama yakni untuk tanaman yang dijadikan control,tanaman yang di masukkan dalam konsentrasi auksi 0,1, 1,0, dan 10 ppm, hampir memiliki rata – rata panjang akar yang sama. Hal ini dapat dikatakan bahwa konsenterasi auksin tersebut dalam kondisi normal untuk pertumbuhan akar. Namun untuk cabang tanaman yang dimasukkan dalam konsenterasi 100 ppm pemanjangan akar semakin lambat dengan kata lain konsentrasi auksin tersebut telah tinggi. Karena auksin dengan konsentersi yang tinggi akan menghanbat pertumbuhan akar.










BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
4.1 Kesimpulan
Dari pengamatan yang kami lakukan terhadap pengaruh auksin terhadap pemanjangan akar, dapat ditarik beberapa kesimpulan antara lain;
*      tanaman yang di letakkan dalam konsentersi 0,1, 1,0, 10, dan juga yang dijadikan sebagai control hampir memiliki pemanjangan akar yang hapir sama.
*      konsentrasi auksin yang tinggi sangat berpengaruh terhadap akar dan batang dan justru menghambat pertumbuhan akar
*      Hormon merupakan senyawa organik yang bekerja aktif dalam jumlah yang sedikit sekali, ditransportasikan ke seluruh tubuh tumbuhan dan mempengaruhi pertumbuhan atau proses-proses fisiologis.
*      Auksin terdapat dalam jaringan dan berpengaruh terhadap pertumbuhan dengan merangsang pembesaran sel.
*      Pada tanaman stek auksin berpengaruh terhadap kecepatan tumbuh tunas, jumlah daun baru, jumlah akar, dan pajang akar.

4.2 Saran
Ø  Dalam melaksanakan praktikum, praktikan harus berhati-hati dan teliti.
Ø  Bila praktikan melakukan kesalahan kecil maka akibatnya akan fatal







DAFTAR PUSTAKA

Dwidjoseputro, D. 1980. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. PT Gramedia: Jakarta.

Darmawan, Januar. 1983. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. PT Suryandaru: Semarang.

Kimball, J.W. 1991. Biologi Jilid I. Erlangga: Jakarta

Tjitrosoepomo, G. 1985. Morfologi Tumbuhan. Gadjah Mada University Press: Yogyakarta

Tjitrosomo, Siti Sutarmi. 1985. Botani Umum 2. Angkasa: Bandung.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Hidroponik


BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang

Hidroponik adalah suatu cara pembudidayaan tanaman tanpa menggunakan tanah sebagai media pertumbuhan, jadi media tanah diganti dengan arang sekam/pasir.
Karena media yang digunakan bukan tanah yang memiliki unsur hara yang berupa zat-zat penting bagitumbuhan nutrisi yang diperlukan tanman berbentuk larutan.
Hidroponik memiliki keunggulan yaitu tidak memerlukan lahan yang luas jadi bisa dijadikan alternatif untuk bercocok tanam bagi yang tidak memiliki lahan yang luas (Anonim,2010)

1.2  Tinjauan Pustaka
Budidaya tanaman secara hidroponik berarti budidaya tanaman tanpa lahan tetapi menggunakam media seperti bak air, polibeg berisi media pasir, media batu,atau media campuran tanah-pasir-pupuk kandang.
Pada budidaya tanaman hidroponik pemberian nutrisi tanaman tidak dalam bentuk pupuk tetapi diberikan dalam bentuk larutan siap pakai.(Usman,2011)

1.3  Tujuan percobaan
tujuan praktikum ini adalah untuk melatih mahasiswa membuat pupuk daun atau larutan hidroponikdan mengevaluasi pengaruh larutan hidroponik terhadap pertumbuhan tanaman holtikultura yang di tanam secara hidroponik.














BAB II
BAHAN DAN METODE

2.1 Bahan  dan Alat Praktikum
      Bahan tanaman yang diperlukan pada praktikum ini adalah benih kangkung darat yang memiiliki viabilitas tinggi. Bahan kimia yang diperlukan pada praktikum ini meliputi NPK, kapur pertanian (dolomite), larutan stok unsure hara makro, larutan stok unsur hara mikro, dan ZPT.

2.2 Metode Praktikum
      Pada acara praktikum ini ada dua kegiatan utama yang dilakukan yaitu: meracik larutan hidroponik dan menguji larutan hidroponik pada tanaman budidaya.  Formula larutan hidroponik yang akan dibuat adalah UKJ-1,UKJ-2, dan UKJ-3. Dengan prosedur yang telah ditentukan.



BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Hasil
     

Sampel
Air
pasir
tanah
Minggu 1
1
-
-
-
II
-
-
-
III
-
-
-
Minggu 2
1
Pucuk menguning
Daun pucuk menguning
mati
II
Daun pucuk menguning
Mati
-
III
-
Daun layu semua
-
Minggu 3
1
Daun masih hijau bertambah pada setiap ketiak daunnya
Mati
Mati
II
Daun pucuk mati dan sebagian daun menguning
Mati
Mati
III
Daun pucuk mati dan sebagian daun menguning
mati
mati
Minggu 4
1
Daun menguning
-
-

II
Mati pucuk daun menguning
-
-

III
Mati pucuk daun menguning














3.2 Pembahasan
      Tumbuhan dan tanaman sangat membutuhkan unsur hara untuk pertumbuhan dan perkembangannya demi kelangsungan hidupnya. Unsur hara yang sangat dibutuhkan oleh tanaman yaitu unsur hara makro seperti : C, H, O, N, S, P, K,Ca,Mg dan unsur hara mikro misalnya : Cl, Mn, dan Fe,Zn,B,Cu,Mo. semua unsur hara tersebut harus dapat dipenuhi oleh tanaman, apabila tidak tercukupi atau kekurangan salah satu unsur hara maka tanaman akan menampakkan tanda-tanda tanaman tersebut kekurangan atau defisiensi.
Seperti yang telah dilakukan pada  acara praktikum ini bahwa tanaman kekurangan unsure hara sehingga tidak dapat tumbuh dengan baik atau tidakk bias menyelesaikan sikus pertumbuhannya.




BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan
Ø Bila pada tanaman mengalami kekurangan unsur hara maka tanaman akan memperlihatkan tandanya seperti menguningnya daun atau layu yang lama kelamaan akan mati.
Ø Unsur hara esensial harus diserap oleh tanaman bila tidak maka akan terjadi defisiensi pada tanaman dan tidak dapat diganti dengannunsur yang lain.
Ø Tanaman apabila kekurangan dari salah satu saja unsure hara yang esensial maka akan menghmbat dalam proses perkembangan dan pertumbuhannya

4.2 Saran
Setiap praktikan seharusnya tepat waktu dan tertib baik pada saat praktikum maupun pengamatan.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim.2010. Hidroponik. http://www.scribd.com/doc/56987991/Hidroponik.Tanggal Tanggal akses 18 desember 2011 pukul 15.39
K.J.S.Usman. 2011. Penuntun Praktikum Dasar-Dasar Fisiologi Tanaman. Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu. Bengkulu


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS