Ayu Komala Sari ^^. Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Pengenalan protista


A.    TUJUAN PRAKTIKUM
Tujuan dari praktikum pengenalan protista dan fungi adalah :
1.      Mahasiswa dapat membedakan antara protozoa dengan algae berdasarkan karakter pembeda protista
2.      Mahasiswa dapat membandingkan beberapa karakter penting dalam protista
3.      Mahasiswa dapat membedakan kelompok protista mayoritas yang ditemukan dengan menggunakan cara pengamatan yang berbeda

B.     DASAR TEORI
Makhluk hidup yang dimasukkan dalam kerajaan Protista memiliki sel eukariotik. Protista memiliki tubuh yang tersusun atas satu sel atau banyak sel tetapi tidak berdiferensiasi. Protista umumnya memiliki sifat antara hewan dan tumbuhan. Kelompok ini terdiri dari Protista menyerupai tumbuhan (ganggang), Protista menyerupai jamur, dan Protista menyerupai hewan (Protozoa, Protos: pertama, zoa: hewan). Protozoa mempunyai klasifikasi berdasarkan sistem alat geraknya, yaitu Flagellata/Mastigophora (bulu cambuk, contoh Euglena, Volvox, Noctiluca, Trypanosoma, dan Trichomonas), Cilliata/Infusiora (rambut getar, contoh Paramaecium), Rhizopoda/Sarcodina (kaki semu, contoh Amoeba), dan Sporozoa (tidak mempunyai alat gerak, contoh Plasmodium) .
Kingdom Fungi (Jamur)
Fungi memiliki sel eukariotik. Fungi tak dapat membuat makanannya sendiri. Cara makannya bersifat heterotrof, yaitu menyerap zat organik dari lingkungannya sehingga hidupnya bersifat parasit dan saprofit. Kelompok ini terdiri dari semua jamur, kecuali jamur lendir (Myxomycota) dan jamur air (Oomycota). Beberapa kelompok kelas antara lain:
a. kelas Myxomycetes (jamur lendes) contoh nya Physarum policephalius.
b. kelas Phycomycetes (jamur ganggang) contoh nya jamur tempe (Rhizopus oryzae mucormue)
Seperti yang sampai saat ini diketahui  bahwa kisaran yang paling tepat dalam menghitung koloni pada cawan adalah 30-300 koloni/cawan atau 25-250 koloni/cawan. Permulaan penentuan kisaran ini berawal dari seorang mikrobiologiwan bernama Nersser (1895) yang menyimpulkan bahwa hitungan cawan yang paling baik adalah cawan yang memiliki 10.000 koloni/cawan yang perhitungannya dilakukan dengan mikroskop pada perbesaran rendah. Tiga tahun kemudian muncul pernyataan bahwa cawan yang mempunyai koloni lebih dari 100 koloni/cawan sebaiknya diabaikan. Selanjutnya pada tahun 1897, Hill menyarankan untuk tidak menghitung cawan yang terlalu banyak jumlah koloninya (overcrowded) karena tidak memberikan hasil yang sesuai dengan kenyataan. Kemudian tahun 1908, orang yang sama menyimpulkan tentang kisaran hitung 40-200 koloni/cawan yang digunakan sebagai landasan pelaporan. Kisaran ini diterima pada Comitee Standard Method of Bacteriology Water Analysis (1915) dan diubah menjadi 30-200 koloni/cawan.
Pencetus kisaran hitung 25-250 koloni/cawan dikemukakan oleh Breed dan Dotterrer pada tahun 1916 yang mempublikasikan dalam seminarnya mengenai topik ini. Mereka menentukan kisaran ini berdasarkan alasan supaya hasil perhitungannya tidak menimbulkan kesalahan statistik yang serius. Mereka juga mencatat bahwa jenis bakteri dapat mempengaruhi ukuran koloni dan jumlah koloni yang tumbuh pada cawan. Selain itu komposisi nutrisi dan jarak antar koloni juga mempengaruhi jumlah koloni per cawan karena koloni tetangga mungkin dapat menghambat pertumbuhan atau menstimulus koloni didekatnya (seperti B. bulgaricus yang distimulus oleh adanya molds). Breed dan Dotterrer memakai tiga kali plating tiap pengenceran (triplicate plating) dalam percobaanya dan memilih cawan yang masuk kisaran dari tiap pengenceran. Pada analisa ini cawan yang memiliki jumlah koloni <30>400 dianggap tidak memenuhi syarat, sedangkan cawan yang memenuhi syarat itu sendiri berjumlah antara 50 dan 200 koloni/cawan. Pencetus lainnya adalah Tomasiewicz (1980) yang menyimpulkan bahwa kisaran hitung untuk plate count dengan ulangan 3 kali (triplicate) yaitu 25-250 koloni/cawan. Kesimpulan ini didapat dari data analisa susu (raw milk) pada tiga eksperimen yang berbeda.
USP (United States Pharmacopoeial) merekomendasikan untuk menggunakan kisaran hitung antara 25 dan 250 koloni/cawan untuk bakteri pada umumnya dan Candida albicans. Sedangkan kisaran yang disarankan jika menganalisa jumlah Aspergillus niger adalah 8-80 koloni/cawan. ASTM (American Standard Testing and Methods) menyarankan untuk menggunakan ksiaran hitung 20-80 koloni/membran jika menggunakan teknik filtrasi membran, 20-200 koloni/cawan untuk spread plate dan 30-300 koloni/cawan untuk pour plate. FDA BAM (Food and Drug Administration, Bacteriological Analytical Manual) merekomendasikan 25-250 koloni/cawan sebagai kisaran hitung secara keseluruhan.
Metode pengukuran pertumbuhan mikroorganisme dapat dibedakan menjadi metode langsung dan tidak langsung. Contoh metode langsung hitungan mikroskopik (menggunakan hemositometer), digunakan untuk mengukur pertumbuhan bakteri pada susu / vaksin dan hitungan cawan digunakan untuk mengukur pertumbuhan bakteri susu, air, makanan, tanah, dan lain-lain.  

C.    BAHAN DAN ALAT
Bahan  :
·         Air rawa, air laut, air rendaman jerami, 100 ml alkohol,cawan biakan aspergillus
Alat :
·         Gelas obyek, gelas penutup, pipet tetes, haemocytometer, mikroskop, mikrometer (obyektik dan okuler), jarum ent.


D.    CARA KERJA
Cara kerja pada acara pengenalan protista
·         Gelas obyek dibersihkan dengan alkohol 90%
·         Air rendaman jerami diteteskan pada gelas obyek
·         Tetesan air ditutup dengan gelas penutup
·         Diamati  dengan mikroskop
·         Protista yang teramati digambar
·         Ulangi prosedur untuk air laut dan rawa
Cara kerja pada pengenalan fungi
·         Mengamati biakan jamur dan digambar serta keterangan
·         Gelas obyek dibersikan dengan alkohol 70%
·         Aquades diteteskan pada gelas obyek
·         Mengambil satu jarum ent jamur  dan letakkan pada gelas obyek
·         Digambar dan beri keterangan
Cara kerja menghitung jumlah spora atau sel
·         Spora dipanen dari biakan dengan menuang 5 ml aquades kedalam cawan biakan
·         Haemocytometer dibersihkan dengan alkohol kemudian keringkan
·         Suspensi spora dikocok kemudian dipipet dan teteskan pada haemocytometer tepat pada ruang hitungnya
·         Preparat diamati dengan menggunakan mikroskop dihitung jumlah sel
·         Pada praktikum dihitung 7 kotak, kemudian dirata-rata dan dihitung jumlah sel setiap koloninya
Cara kerja mengukur mikroorganisme
·         Gelas obyek dibersihkan dengan alkohol 70%
·         Massa sporangium diambil dengan jarum ent diletakkan pada gelas obyek yang telah ditetesi air kemudian tutup dengan gelas penutup
·         Preparat diamati dengan mikroskop
·         Mikrometer okule dipasang dalam lensa okuler untuk mengkur obyek dengan menggunakan skala
·         Setelah selesai mengukur dengan skala okuler, kemudian untuk kaliberasi dengan mikrometer obyektif.
·         SMOK diatur supaya berimpit,dan SMOB dengan cara menggeser-geser meja benda mikroskop dan memutar lensa okuler
·         Setelah garis berimpit, dilakukan kaliberasi dengan cara membandingkan kesetaraan SMOK dan SMOB yaitu menghitung jumlah SMOK dan SMOB
·         Dalam praktikum dilakukan 5 kali

E.     DATA HASIL PRAKTIKUM
Data hasil mengukur  mikroorganisme
Obyek
Ulangan
SMOK
SMOB
Mikrometer
1
20-30=10
11
2
34-64=30
6
3
50-60=10
9
4
70-90=20
18
5
70-84=14
12



Sporangium

Panjang
Lebar
1
19-29=10
34-39=5
2
43-52=9
54-64=10
3
55-60=5
54-59=5
4
19-28=9
34-45=11
5
57-60=3
48-56=8



F.     PERHITUNGAN DAN PEMBAHASAN
Perhitungan ukuran sporangium
Kaliberasi        1. 10 SMOK = 11 SMOB
Mikrometer      2. 30 SMOK = 6 SMOB
                        3. 10 SMOK = 9 SMOB
                        4. 20 SMOK = 10 SMOB
                        5. 14 SMOK = 12 SMOB
Jumlah             = 84 SMOK = 56 SMOB
                        1 SMOK = 56:84 SMOB = 6,67 µm
Jumlah spora = 5+4+7+5+6/5 = 27/5 = 5,45 sel
1 mm3 = 5,4 sel/ 25 x 10-5
mm3 = 21.600 sel didalam 1 ml suspensi = 1000 mm3
                                                                = 1000x21600 sel
                                                                = 216 x 105 sel
20 x 216 x 105 sel = 432 x 106 sel = 432 juta sel

Pada acara pengenalan protista dan fungi pada air laut, air rendaman jerami dan air rawa didapat hasil pada air laut  terdapat alga stingoocionium, alga nodularia pada air rendaman jerami terdapat paramecium, euglena, lionotus dan pada air rawa terdapat alga oocytus.
Dari hasil ini kita mengetahui bahwa banyak mikroorganisme dialam. Mikroorganisme tersebut bisa hidup di tanah, udara dan juga air. Dari pengamatan praktikum ini juga kita dapat mengetahui karakter, struktur dan perbedaan miikroorganisme satu dengan yang lainnya. Selain itu kita juga bisa mengetahui fungsi masing-masing mikroorganisme.

Pada acara menukur dan menghitung bakteri juga kita bisa mengetahui cara-caranya dan juga kita bisa mengetahui jumlah sel dan ukuran mikroorganisme itu sendiri. Dari data percobaan ini jumlah sel ada 432 juta sel.


G.    KESIMPULAN
Dari hasil percobaan dapat disimpulkan bahwa :
·         Protista beranggotakan organisme unisel, tipenya eukariotik, dan mendapatkan sumber karbon lebih dari satu cara
·         Algae merupakan organisme yang mengandung satu tipe atau lebih krolofil ditambah pigmen yang kita kenal sebagai karotein dan biloprotein
·         Protozoa merupakan organisme bersel tunggal yang mendapatkan energi menggunakan cara absorsi dan pencernaan.
·         Metode pengukuran pertumbuhan mikroorganisme dapat dibedakan menjadi metode langsung dan tidak langsung. Metode langsung bisa menggunakan haemacytometer


H.    DAFTAR BACAAN

Anonim. Dilution Theory and Problems.
http://www.bio.fsu.edu/courses/mcb4403L/dilution.pdf. diakses pada 7 Mei 2011
Purnomo, Bambang.2011.Petunjuk praktikum mikrobiologi.Fakultas pertanian.Bengkulu
Volk dan Wheeler. 1980. Mikrobiologi Dasar Jilid I. Erlangga: Jakarta.

Kurnia. 2010. Gram staining. http :// kurnia.blogspot.com Diakses pada tanggal 7 mei  2011.





  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Demi Lovato - Heart attack

Puttin’ my defences up
‘Cause I don’t wanna fall in love
If I ever did that
I think I’d have a heart attack

Never put my love out on the line
Never said yes to the right guy
Never had trouble getting what I want
But when it comes to you, I’m never good enough
When I don’t care
I can play ‘em like a Ken doll
Won’t wash my hair
Then make 'em bounce like a basketball

But you make me wanna act like a girl
Paint my nails and wear high heels
Yea you, make me so nervous
That I just can’t hold your hand

You make me glow, but I cover up
Won’t let it show, so I’m
Puttin’ my defences up
Cause I don’t wanna fall in love
If I ever did that
I think I’d have a heart attack (x3)

Never break a sweat for the other guys
When you come around, I get paralyzed
And everytime I try to be myself
It comes out wrong like a cry for help
It’s just not fair
Pain’s more trouble than love is worth
I gasp for air
It feels so good, but you know it hurts

But you make me wanna act like a girl
Paint my nails and wear perfume
For you, make me so nervous
That I just can’t hold your hand

You make me glow, but I cover up
Won’t let it show, so I’m
Puttin’ my defences up
Cause I don’t wanna fall in love
If I ever did that
I think I’d have a heart attack (x3)

The feelings got lost in my lungs
They’re burning, I’d rather be numb
And there’s no one else to blame
So scared I take off and I run
I’m flying too close to the sun
And I burst into flames

You make me glow, but I cover up
Won’t let it show, so I’m
Puttin’ my defences up
‘Cause I don’t wanna fall in love
If I ever did that
I think I'd have a heart attack (x2)
I think I'd have a heart attack
I think I'd have a heart attack (x2)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Ku kan pergi by Achikochi

letih perih tergoyang sudah 
cintaku untuk bersamamu 
sayang tinggalkan saja aku 
jangan kau tengok lagi biar ku pergi 

aku tau cinta dewasa itu 
tak selalu milik kita 
jalan kita memang berbeda 
jangan kau paksa lagi biar ku pergi 

dulu engkau sosok pangeranku yang 
merajut cinta dalam keajaiban 
kini kan kuselesaikan dongeng ini 
gomenasai ku kan pergi 

tak perlu kau sesali yang telah terjadi 
hadapi hidup ini 
hari-hariku terus berganti 

kisah kita kan jadi memori 

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Dominan Tak Penuh

BAB.I PENDAHULUAN

1.1 Dasar Teori
Dominan suatu alel terhadap alel yang lain tidak selalu terjadi. Penampakan suatu gen dapat dipengaruhi oleh faktor – faktor lingkungan, umur, jenis kelamin, spesies, fisiologi, genetika dan faktor – faktor lainnya. Tidak adanya dominasi telah diketahui pada awal sejarah penelitian den. Perubahan dominasi in itimbul karena interaksi alel, baik antar alel pada lokus yang sama maupun pada lokus yang berbeda.Dominan DUA Aalele menghasilkan hasil yang sama, kecuali dalam keadaan tertentu, allele resesip tidak manghasilkan sesuatu. Heterosigot menghasilkan jumlah yang lebih sedikit darupada homosigot dominan, tetapi lebih banyak dari pada homosigot resesif.

Dominan tak penuh disebut juga sebagai pastial dominan atau incomplete dominance. Pada acara 1 dan 2 (Mendel I dan Mendel II), prinsip Mendel dipraktekkan secara simulasi menggunakan kancing genetika dengan ekspresi gen dominan penuh (complete dominance). Incompolete atau partial dominan tak penuh yaitu ekspresi gen pada turunan berdasarkan pengamatan fenotip yang intermediat (antara) dari hasil silangan tetua dengan karakter yang berbeda dan kontras (seperti panjang ; pendek, besar ; kecil, merah ; putih, dsb). Sebagai contoh bunga kembang pukul empat dan anyelir warna merah disilangkan dengan bunga warna putih, maka F1-nya akan berwarna merh muda (pink). Disini terlihat bahwa baik merah atau putih (tidak dominan). Oleh karena warna merah diekspresikan sebagai warna merah muda (pink) pada F1, maka dominan muncul sebagai partial atau tak penuh. Fenotip ini dikontrol oleh pasangan alel yang keduanya tidak dominan, maka F2 mempunyai ratio sama dengan ratio genotipenya ( 1 merah : 2 pink : 1 putih).

1.2 Tujuan Pratikum
 Mengetahui ekspresi gen partial dominance atau dominan tak penuh.
 Melihat langsung ( melalui foto – foto ) hasil persilangan yang partial dominance

BAB.II BAHAN DAN METODE PRATIKUM

Bahan dan alat yang digunakan dalam pratikum:
• Over head projektor (OHP)
• Transparansi

Cara kerja:
• Mengamati dan mendiskusikan foto – foto hasil persilangan yang ditunjukkan melalui transparansi.


BAB.III HASIL PENGAMATAN

Pada percobaan praktikum acara yang berjudul dominan tak penuh kami hanya mengamati gambar tomat dan bunga Anyelir.

BAB.IV PEMBAHASAN

Dari hasil pengamatan antara persilangan antara bunga Anyelir merah dan bunga anyelir putih, ditemukan bahwa hasil persilangan F1 semua bunga akan berwarna merah muda (pink). Disini terlihat bahwa baik merah maupun putih tidak ada yang dominan dan tidak ada yang resesif. Warna kedua parentalnya saling mempengaruhi. Oleh karena warna merah diekspresikan sebagai merah muda (pink) pada F1, maka dominan muncul sebagai partial atau tak penuh. Oleh sebab itu pada F2 rasio fenotipenya dan genotipenya sama yaitu 1 merah : 2 pink : 1 putih

Dari hasil pengamatan antara bunga mawar merah dengan bunga mawar putih, didapat bahwa hasil persilangan F1 bunga akan berwarna merah muda (pink) semua. Disini terlihat bahwa baik merah atau putih (tidak dominan). Oleh karena warna merah diekspresikan sebagai warna merah muda (pink) pada F1, maka dominan muncul sebagai partial atau tak penuh. Fenotip ini dikontrol oleh pasangan alel yang keduanya tidak dominan, maka F2 mempunyai ratio sama dengan ratio genotipenya (1 merah : 2 pink : 1 putih).

BAB.V KESIMPULAN


• Keadan lingkungan dapat sangat mempengaruhi penampakan gen. Dalam kenyataan penampakan fenotife adalah akibat interaksi antara genotife dan lingkungan...

• Dominan tak penuh atau partial dominan adalah eksperesi gen pada turunan berdasarkan pengamatan fenotip yang intermediet dari hasil persilangan tetua dengan karakter yang berbeda dan kontras.

• Ekspresi dari gen partial dominan adalah gabungan antara sifat kedua induknya yang saling mempengaruhi (tidak ada dominan dan tidak ada resesif).

• Hasil persilangan F1 bunga anyelir dan bunga pukul empat berwarna merah dan putih hasilnya akan berwarna merah muda (pink) semua.


DAFTAR PUSTAKA

Crowder, L. V. 1997. Genetika Tumbuhan. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

Suryati, Dotti. 2011. Penuntun Pratikum Genetika Dasar. Bengkulu: Lab. Agronomi Universitas Bengkulu.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Pemecahan Dormansi

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Suatu sistem pelestarian hidup bagi beberapa spesies yaitu Dormansi benih. Dormansi benih sebagai ketidakmampuan benih hidup berkecambah pada suatu kisaran keadaan yang luas dianggap menguntungkan untuk benih tersebut. Proses Dormansi dapat disebabkan oleh karena tidak mempunyai benih secara total untuk berkecambah atau hanya karena bertambahnya kebutuhan yang khusus untuk perkecambahan. Benih dikatakan dorman apabila benih tersebut sebenarnya hidup tapi tidak berkecambah walaupun diletakkan pada keadaan yang secara umum dianggap telah memenuhi persyaratan suatu perkecambahan. Dormansi pada benih dapat berlangsung selama beberapa hari bahkan beberapa tahun tergantung jenis tanaman dan tipe dari dormansinya atau sebelum dikenakan suatu perlakuan khusus terhadap bahan tersebut. Dormansi pada benih dapat disebabkan oleh keadaan fisik dari kulit biji, keadaan fisiologis dari embrio, atau kombinasi dari kedua kedaan tersebut. Sebagai contoh kulit biji yang impermeabel terhadap air dan gas sering dijumpai pada benih-benih Leguminosae. Faktor-faktror yang menyebabkan hilangnya dormansi pada benih sangat bervariasi tergantung pada jenis tanaman dan tentu saja tipe dormansinya, antara lain yaitu: karena temperatur yang sangat rendah dimusim dingin, perubahan temperatur yang silih berganti, menipisnya kulit biji, hilangnya kemampuan untuk menghasilakan zat-zat penghambat perkecambahan, adanya kegiatan dari mikroorganisme. Pemecahan dormansi dan penciptaan lingkungan yang cocok sangat perlu untuk memulai proses perkecambahan beberapa spesies. Perlakuan tergantung pada tipe dormansi yang terlibat (dormansi fisik dan dormansi fisiologi atau dormansi ganda). Perlakuan mencakup skarifikasi, stratifikasi, membiarkan embro dan berbagai kombinasi dari perlakuan-perlakuan ini, dengan pengaturan lingkungan yang cocok. Perkecambahan benih yang mengandung kulit biji yang tidak permeabel dapat dirangsang denagn skarifikasi-pengubahan kulit biji untuk membuatnya menjadi permeabel terhadap gas-gas dan air. Tindakan air panas 77-1000C efektif untuk benih “honey locust”. Beberapa benih dapat diskarifikasi dengan tindakan H2SO4. 1.2 Tinjauan Pustaka Dormansi merupakan kondisi fisik dan fisiologis pada biji yang mencegah perkecambahan pada waktu yang tidak tepat atau tidak sesuai. Dormansi membantu biji mempertahankan diri terhadap kondisi yang tidak sesuai seperti kondisi lingkungan yang panas, dingin, kekeringan dan lain-lain. Sehingga dapat dikatakan bahwa dormansi merupakan mekanisme biologis untuk menjamin perkecambahan biji berlangsung pada kondisi waktu yang tepat untuk mendukung pertumbuhan yang tepat. Dormansi bisa diakibatkan karena ketidak mampuan sumbu embrio untuk mengatasi hambatan. Dormansi benih berhubungan dengan usaha benih untuk menunda perkecambahannya, hingga waktu dan kondisi lingkungan memungkinkan untuk melangsungkan proses tersebut. Dormansi dapat terjadi pada kulit biji maupun pada embryo. Biji yang telah masak dan siap untuk berkecambah membutuhkan kondisi klimatik dan tempat tumbuh yang sesuai untuk dapat mematahkan dormansi dan memulai proses perkecambahan. Dormansi diklasifikasikan menjadi bermacam-macam kategori berdasarkan faktor penyebab, mekanisme dan bentuknya. a. Berdasarkan faktor penyebab dormansi • Inposed dormancy (quicsence) : terhalang pertumbuhan aktif karena keadaan lingkungan yang tidak menguntungkan • Imnate dormancy (rest) : dormansi yang disebabkan oleh keadaan atau kondisi di dalam organ biji itu sendiri b. Berdasarkan mekanisme dormansi di dalam biji menurut Sutopo, (1985) • Mekanisme fisik Merupakan dormansi yang mekanisme penghambatannya disebabkan oleh organ biji itu sendiri, terbagi menjadi : 1. Mekanis : embrio tidak berkembang karena dibatasi secara fisik 2. Fisik : penyerapan air terganggu karena kulit biji yang immpermeabel 3. Kimia : bagian biji atau buah yang mengandung zat kimia penghambat 4. Dormansi sekunder adalah benih-benih yang pada keadaan normal mampu berkecambah, tetapi apabila dikenakan pada suatu keadaan yang tidak menguntungkan selama beberapa waktu dapat menjadi kehilangan kemampuannya untuk berkecambah. Kadang-kadang dormansi sekunder ditimbulkan bila benih diberi semua kondisi yang dibutuhkan untuk berkecambah kecuali satu. Misalnya kegagalan memberi cahaya pada benih yang membutuhkan cahaya. Pematahan Dormansi pada biji untuk mengetahui dan membedakan apakah suatu benih yang tidak dapat berkecambah adalah dorman atau mati, maka dormansi perlu dipecahkan. Masalah utama yang dihadapi pada saat pengujian daya tumbuh/ kecambah benih yang dormansinya adalah bagaimana cara mengetahui dormansi, sehingga diperlukan cara-cara agar dormansi dapat dipersingkat. Dormansi pada biji dapat dipatahkan dengan perlakuan mekanis, cahaya, temperatur dan bahan kimia. Pretreatmen skarifikasi atau perawatan awal pada benih digunakan untuk mematahkan dormansi kulit biji serta mempercepat perkecambahan biji yang seragam. Skarifikasi mencakup cara-cara seperti mengkikir/ menggosok kulit biji dengan kertas amplas, melubangi kulit biji dengan pisau, memecah kulit biji maupun dengan perlakuan goncangan untuk benih-benih yang memiliki sumbat gabus. Tujuan dari perlakuan mekanis ini adalah untuk melemahkan kulit biji yang keras sehingga lebih permeabel terhadap air atau gas. Melalui perlakuan kimia menjadikan agar kulit biji lebih mudah dimasuki air pada waktu proses imbibisi. Larutan asam sulfat, asam nitrat dengan konsentrasi pekat membuat kulit biji menjadi lunak sehingga dapat dilalui oleh air dengan mudah. Selain itu perendaman di dalam air panas juga dapat memudahkan penyerapan air oleh benih. Stratifikasi adalah pemberian temperatur rendah pada keadaan lembab. Stratifikasi digunakan untuk mematahkan dormansi embryo Selama stratifikasi terjadi sejumlah perubahan dalam benih yang berakibat menghilangkan bahan-bahan penghambat perkecambahan atau terjadi pembentukan bahan-bahan yang merangsang pertumbuhan. 1.3 Tujuan percobaan Mematahkan dormansi benih sengon (Albizia falcata) yang disebabkan oleh kondisi kulit biji yang keras dengan perlakuan fisik dan kimiawi. BAB II BAHAN DAN METODE 2.1 Bahan Praktikum Adapun bahan dan alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah biji sengon (Albizia falcata), petridish, dan alat penggosok. 2.2 Metode Praktikum 1. Mengambil 50 Albizia untuk tiap kelompok. Pisahkan 50 biji menjadi 5 bagian, masing-masing berisi 10 biji, dan berikan label A, B, C, D, dan E untuk setiap kelompok yang berisi 10 biji 2. Mengambil semua biji kelompok A, hilangkan semua kulitnya pada bagian yang tidak ada lembaganya, dengan alat gsok (amplas). Kecambahkan biji pada petridish yang telah diberi air 3. Mengambil semua biji kelompok B, rendam selama 5 menit didalam larutan H2SO4 pekat 4. Mengangkat biji dari larutan H2SO4 pekat pada akhir percobaan (setelah 5 menit), cuci dengan aquades sehingga bersih dari residu H2SO4 pekat, dan kecambahkan pada petridish yang sudah diisi air 5. Mengambil semua biji kelompok C, rendam selama 10 menit di dalam larutan H2SO4 pekat. Mengulangi langkah nomor 4 6. Mengambil semua biji kelompok D, rendam selama 15 menit didalam larutan H2SO4 pekat. Ulangi langkah nonor 4 7. Mengambil semua biji kelompok E, kecambahkan pada petridish yang telah diisi air 8. Mengamati kapan benih mulai berkecambah 9. Mencatat pada hari keberapa perkecambahan terjadi,menghitung jumlah kecambah dan mengukur panjang tunas BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1 Hasil perlakuan Banyak biji yang berkecambah hari ke 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Penggosokan - - - - 1 1 - - - - H2SO4 5 10 15 20 KONTROL - - - - - - - - - - 3.2 Pembahasan Praktikum Pemecahan dormansi biji sengon ini dilakukan dengan pengosokan dan merendam dalam larutan H2SO4 pekat selama kurang lebih 5 menit,10 menit, dan 15 menit, kemudian diletakkan dalam petridish yang diisi air dan diamati kapan benih mulai berkecambah Dormansi adalah suatu keadaan dimana pertumbuhan tidak terjadi walaupun kondisi lingkungan mendukung untuk terjadinya perkecambahan. Pada beberapa jenis varietas tanaman tertentu, sebagian atau seluruh benih menjadi dorman sewaktu dipanen, sehingga masalah yang sering dihadapi oleh petani atau pemakai benih adalah bagaimana cara mengatasi dormansi tersebut. Pengosokan yang dilkukan dengan menggunakan amplas pada biji sengon bertujuan untuk melukai atau untuk menhilangkan kulit benih pada biji sengon yang kita ketahui memiliki biji kulit yang sangat keras. Penggosokan ini bertujuan untuk mematahkan dormansi biji sengon akibat kulit benih yang keras, dengan cara melukai bagian kulit benih sebagai jalan masuknya air kedalam benih. Apabila air telah masuk kedalam benih air tersebut dapat merangsang pertumbuhan embrio yang terdapat dalam benih setelah air masuk maka embrio akan membengkak, dengan membengkaknya embrio maka dapat menghancurkan dormancy dari dalam. Pada pengamatan yang kami lakukan benih sengon mulai tumbuh pada hari ke- yang tumbuh pun hanya satu dan pada hari ke- yang berkecambah pun hanya 1. sedangkan pada hari berikutnya biji saga mulai berjamur dan akhirnya busuk dan tidak dapat tumbu lagi. Perendaman Dengan Menggunakan H2SO4 (5’ , 10’ , 15’ , 20’) dan Control. Perendaman biji saga dengan menggunakan H2SO4 memiliki tujuan yang sama halnya dengan penggosokan dengan menggunakan amplas yakni untuk melukai bagian kulit benih agar dapat mematahkan dormancy kulit benih saga yang cukup panjang akibat dari kulit benihnya yang keras dan juga tebal. BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN 4.1 Kesimpulan 4.2 Saran DAFTAR PUSTAKA Anonim, 2009, Fisiologi tumbuhan dormansi pada biji, http:/i-me-myself-ildah.blogspot.com Anonim, 2010, Laporan dormansi dan perkecambahan biji,http:/dwikahenny24.wordpress.com Anonim, 2010 Dormansi, http:/id.wikipedia.org/wiki/Dormansi Salisbury.F., 1985. Fisiologi Tumbuhan. Bandung : ITB

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

acara 2

BAB I. PENDAHULUAN A. Latar belakang Suhu adalah suatu sifat fisika darri suatu benda yang menggambarkan energi kinetic rata-rata pergerakan molekul suatu benda. Suhu dinyatakan dalam satuan derajat Celcius(oC), Fahreinheat(oF), Reamur(oR), dan Kelvin(oK). Suhu menyatakan tinggal energi bahang rata-rata suatu benda. Ia dinyatakan dalam satuan derajat. Ada tiga macam satuan penggolongan suhu yang umum , yaitu system reamur, system fahreinheit, dan Celsius. Namun yang paling popular adalah yang disebut dua terakhir. Dalam boisfer, suhu benda alami, beragam menurut tempat dan waktu yang disebabkan oleh perbedaan benda dalam menerima energi radiasi surya dan hasil pengaruh energi ini terhadap sekelilingnya. Menurur tempat ia ditentukan oleh letak menurut ketinggian dan menurut lintang di bumi. Menurut waktu yang ditentukan oleh sudut inklinasi surya. B. Tujuan praktikum • Mahasiswa mengerti tentang panas dari udara dan tanah. • Mengerti tentang pluaktuasi dan sebaran suhu menurut tempat dan waktu. BAB II. TINJAUAN PUSTAKA Suhu adalah suatu sifat fisika dari suatu benda yang menggambarkan energi Kinetik rata-rata pergerakan molekul suatu benda. Suhu dinyatakan dalam satuan derajat Celcius (oC), Fahreinheit (oF), Reamur (oR), Kelvin (oK).(Daldjumi. 1983. Pokok-pokok Klimatologi) Suhu udara bervariasi menurut tempat dan dari waktu ke waktu di permukaan bumi. Menurut tempat suhu udara bervariasi secara vertical dan horizontal dan menurut waktu dari jam ke jam dalam sehari, dan menurut bulanan dalam setahun. (Wisnubroto,S,S.S.L Aminah, dan Nitisapto,M. 1982) Suhu udara di atmosfer bervariasi menurut letak ketinggian tempat. Hingga ketinggian tertentu suhu udara dapat menurun, tetapi menurut ketinggian yang lainnya meningkat. Pada lapisan Troposfer (lapisan bawah atmosfer) suhu udara menurun menurut letak ketinggian tempat hingga ketinggian 10 km dengan gradein penurunan suhu 5,0-6,5 oC per 1000 m diatas permukaan laut. Menurunnya suhu menurut letak ketinggian tempat ini dimungkinkan karena beberapa hal antara lain : 1. Pengaruh keadaan suhu dekat permukaan bumi. 2. Pengaruh lautan 3. Pengaruh kerapatan udara Beberapa faktor yang mempengaruhi suhu secara horizontal di permukaan bumi antara lain : 1. Letak lintang suatu tempat. 2. Pengaruh arus laut 3. Distribusi antara daratan dan lautan Penyebaran suhu udara menurut waktu dapat kita kaji dalam dua pola :1. pola suhu diurnal (suhu udara setiap jam selama 24 jam), dan 2. pola suhu udara rata-rata harian menurut bulanan dan tahunan.(Dasar-dasar Klimatologi 2000) Untuk menyatakan suhu udara dipakai berbagai skala. Dua skala yang sering dipakai dalam pengukuran suhu udara adalah skala Fahrenheit yang dipakai di negara Inggris dan skala Celcius atau skala perseratusan (centigrade) yang di pakai oleh sebagian besar negara di dunia. (Bayong, 2004) Dalam biosfer, suhu benda alami, beragam menurut tempat dan waktu yang disebabkan perbedaan benda dalam menerima energi radiasi surya dan hasil pengaruh energi ini terhadap ssekelilingnya. Menurut tempat ia ditentukan oleh letak menurut ketinggian dan menurut lintang di bumi. Menurut waktu ia ditentukan oleh sudut inklinasi surya. (Penuntun, 2011) Suhu udara berubah sesuai dengan tempat dan waktu. Pada umumnya suhu maksimun terjadi sesudah tengah hari, biasannya antara jam 12.00 dan jam 14.00, dan suhu minimun terjadi pada jam 06.00 waktu lokal atau sekitar matahari tertib. Suhu udara harian rata-rata didefinisiakan sebagai rata-rata pengamatan selama 24 jam (satu hari) yang dilakukan tiap jam. Suhu bulanan rata-rata ialah jumlah dari suhu harian rata-rata dalam 1 bulan dibagi dengan jumlah hari dalam bulan tersebut. Suhu tahunan rata-rata dihitung dari jumlah suhu bulanan rata-rata dibagi denagn 12. (Bayong, 2004). Suhu normal adalah angka rata-rata suhu yang diambil dalam waktu 30 tahun. (Ir. Ance, 1986). Faktor-faktor yang mempengaruhi suhu di permukaan bumi ialah : a. Jumlah radiasi yang diterima per tahun – per hari – per musim. b. Pengaruh daratan atau laut, dan c. Pengaruh ketinggian tempat, d. Pengaruh angin secara tidak langsung, angin yang membawa panas dari sumbernya secara horizontal. e. Pengaruh panas laten : panas yang disimpan dalam atmosfer. f. Penutup tanah : tanah yang ditutup vegetasi mempunyai temperatur yang kurang daripada tanah tanpa vegetasi. g. Tipe tanah : tanah-tanah gelap indeks suhunya lebih tinggi, h. Pengeruh sudut datang matahari, sinar yang tegak lurusakan membuat suhu ebih panas daripada yang datangnya miring. Pengaruh suhu terhadap makhluk-makhluk hidup adalah sangat besar sehingga pertumbuhanya benar-benar seakan-akantergantung padanya, terutama dalam kegiatan-kegiatannya. Dengan suhu yang tinggi benih-benih akan mengadakan metabolisme yang lebih cepat, akibatnya apabila benih-benih dibiarkan atau ditanam pada datarn atau tanaman tinggi maka daya kecambahnnya akan turun. Jadi pada tanaman juga ada suhu maksimum, suhu optimum. Suhu maksimum yaitu pada suhu tinggi tertentu, di mana suatu tanaman masih dapat tumbuh, suhun minimum adalah suhu terendah di mana tanaman masih dapat hidup, sedang suhu optimum adalah suhu terbaik yang dibutuhkan tanaman, di aman proses pertumbuhanya dapat berjalan lancar. Tentang suhu tanah juga demikian berpengaruh pada tanaman, pengukuran biasanya dilakukan pada kedalam : 5 cm, 10 cm, 20 cm, 50 cm dan 100cm. Pengaruh suhu tanah terhadap tanaman yaitu pada : perkecambahan biji, pada aktivasi mikroorganisme, dan perkembangan penyakit tanaman. Faktor pengaruh suhu tanah yaitu faktor luar (eksternal) dan faktor dalam (internal). Faktor eksternal yaitu radiasi matahari keawanan,curah hujan, angin dan kelembapan udara; sedangkan faktor internal yaitu tekstur tanah, struktur dan kadar air tanah, kandungan bahan organik dan warna tanah. (Ir. Ance, 1986). BAB III. METODOLOGI A.Bahan Dan Alat • Thermometer udara • Thermometer tanah • Termograf • kertas pias • Alat pelindung atau penaung • Meteran • Pisau atau parang • Alat tulis B.Cara Kerja  Suhu Udara 1. Ambil thermometer dan tempatkan pada titik pengamatan yang diinginkan. 2. Tempat yang diukur adalah diatas permikaan lapangan yang berrumput, lapangan beraspal, dan dibawa pohon rindang. 3. Titik ketinggian pengamatan adalah 5 cm, 20 cm, 75 cm,120 cm, dan 200 cm dari permukaan tanah. 4. Pengamatan dilakukan dengan membiarkan termmometer di tempat titik pengamatan sekitar 3 menit. Alat tidak boleh terkena radiasi langsung (terutama bagian sensor) mauoun perambatan panas dari badan pengamat. 5. Bahas apakah terjadi perbedaan untuk setiap tempat dan titik pengukuran.  Suhu Tanah 1. Siapkan thermometer tanah. 2. Pilih tempat yang ingin diukur. Untuk menghindari kemungkinan alat rusak, maka pilih lahan yang bertanah gembur agar mudah menanamkan alat atau gali tanah lebih dulu, masukkan alat, kemudian bagian alat yang terbenam ditimbun. 3. Ukur suhu tepat dipermukaan tanah, 5 cm, 10 cm, dan 15 cm dari permukaan tanah. 4. Bahas , apakah ada perbedaan masing-masing tempat tersebut. 5. Jika diadakan penggukuran pada pagi hari dan sore hari, apakah terjadi perbedaan pula? 6. Apa kira-kira gunanya kita mengetahui keadaan suhu tanah bagi bidang biologi atau pertanian? BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A.Hasil 1. suhu udara Tempat Ketinggian (cm) 20 75 120 Lahan terbuka ( 0C ) 20,5 19 19 Lahan pertanian ( 0C ) 19,5 19,5 21 Lahan hutan ( 0C ) 21 20 20 2. suhu tanah Tempat kedalaman (cm) 5 10 15 Lahan terbuka ( 0C ) 26 25,5 25 Lahan pertanian ( 0C ) 25 24 22,3 Lahan hutan ( 0C ) 23,5 22,6 22 B. Pembahasan 1. Suhu Udara Dari pratikum yang dilakukan maka didapatkan bahwa suhu udara disetiap lokasi dan disetiap ketinggian tempat memiliki nilai derajat yang berbeda-beda, dimana temperatur maksimum dan minimum biasanya memiliki nilai yang berdekatan. Adapun rumus untuk menghitung suhu udara harian dengan menggunakan thermometer min-max adalah : Pada setiap pengamatan suhu udara terhadap tiap –tiap ketinggian berbeda –beda. Semakin tinggi pengukuran suhu dilakukan maka suhu akan semakin bertambah . Dari data tersebut juga diketahui bahwa data nya/suhunya rendah tidak seperti suhu hari-hari biasa . Hal ini terkait dengan tidak adanya radiasi matahari karena pada saat praktikum adalah terjadi hujan. Pada masing –masing lahan pengukuran suhu juga berbeda-beda. Lahan terbuka lebih tinggi suhunya dari pada lahan pertanian dan lahan hutan. Hal ini wajar Karena pada lahan hutan terdapat banyak vegetasi tanaman berupa pohon-pohon besar. Ini akan menghambat radiasi matahari kebawah tanaman tersebut. 2. Suhu Tanah Pada pengukuran suhu tanah ini alatnya yang digunakan adalah termometer tanah. Pada masing-masing kedalaman tanah yaitu 5 cm, 10 cm , dan 15 cm suhu yang didapat kan berbeda. Pada kedalaman paling atas (5 cm) suhu nya lebih tinggi dibanding denagn suhu paling bawah (15 cm). Semakin dalam pengukuran suhu pada tanah dilakukan maka suhu akan semakin rendah. Hal ini juga berkaitan dengan radiasi matahari. Pada lapisan tanah bagian atas radiasi matahari lagsung terkena ke tanah bagian tersebut. Sedangkan lapisan tanah bagian bawah radiasi matahari tidak mampu menembus tanah tersebut. Maka dari itu suhu tanah bagian atas lebih tinggi dibanding lapisan tanah bagian bawahnya. Pengukuran suhu tanah berguna untuk kepentingan pertanian. Hal ini supaya kita tahu bahwa organisme/ mikroorganisme (dalam tanah ) mana yang tahan terhadap suhu tinggi dan mana yang tidak tahan terhadap suhu tinggi dan mikroorganisme mana yang berguna atau merusak tanaman supaya dapat disesuaikan iklimnya. BAB V. PENUTUP A. Kesimpulan 1. Pada pengukuran suhu udara , semakin tinggi kita mengukur suhunya maka suhu akan semakin tinggi juga. 2. Pada pengukuran suhu tanah, semakin dalam kita mengukur suhu pada tanah itu, maka suhu akan semakin rendah (turun) 3. Perbedaan tempat juga dapat menyebabkan perbedaan suhu. 4. Hal –hal yang mempengaruhi suhu adalah : radiasi matahari, ketinggian tempat, jenis penutup tanah, dll. DAFTAR PUSTAKA Muin N.S.2011, penuntun praktikum agroklimatologi, Universitas Bengkulu, Bengkulu. Daldjumi. 1983. Pokok-pokok Klimatologi. Penerbit Alumni. Bandung. Handoko.1993.Klimatologi Dasat. Landasan Pemahaman Fisika Atmosfer dan Unsu-unsur Iklim. Jurusan Geofisika dan Meteorologi. FMIPA-IPB, Bogor. Hasan,U.M.1970. Dasar-dasar Meteorologi Pertanian.PT.Soeroenngan, Jakarta. Wisnubroto,S,S.S.L Aminah, dan Nitisapto,M. 1982. Asas-asas Meteorologi Pertanian, Departemen Ilmu-ilmu Tanah, Fakultas Pertanian, UGM, Yogyakarta, dan Ghalia Indonasia, Jakarta.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Acara 1

BAB I PENDAHULUAN Ilmu iklim dan cuaca merupakan ilmu pengetahuan yang berperan untuk mengerti lebih jauh tentang alam fisika atmosfir dan proses-prosesnya di permukaan bumi. Ia berhubungan erat dengan ilmu-ilmu lain yang berkenaan dengan fisik dan biologi seperti geologi, pertanian ilmu lingkungan, ilmu kelautan, ilmu penerbangan, dan lain sebagainya. Jaringan pengamatan klimatologi pertanian terdiri atas sejumlah stasiun yang meliputi suatu daerah. Factor yang perlu dipertimbangkan dalam penempatan kelas dan jumlah stasiun disuatu daerah tergantung luasan keragaman tipe iklim jenis tanh , cork pertanian keragaman vegetasi. Penempatan suatu stasiun meteorology pertanian hendaknya benar-benar mewakili suatu daerah pertanian yang luas. Agar kebenaran dan keterwakilan data terhadap ekitar dapat dipenuhi , serta keamanan peralatan dapat terjamin maka suatu stasiun harus memenuhi beberap persyaratan. Untuk menghindari gangguan biasanya stasiun diberi pagar cukup kokoh tetapi pagar ini haruslah tak menggangu pengamatan, seperti mempunyai efek turbulensi, meradiasikan cukup panas dan lain-lain. Biasanya pagar terbuat dari kawat atau batangan besi kecil. Salah satu hal penting dalah pagar dibuat berpintu yang menghadap arah utara dan selatan. Ukuran luas stasiun beragam tergantung pada banyaknya alat yang terpasang. TUJUAN  Agar mahasiswa dapat mengenal alat-alat klimatologi serta fungsinya secara mendetail  Agar mahasiswa mengetahui stasiun –stasiun klimatologi dan menentukan kelas- kelasnya. BAB II TINJAUAN PUSTAKA Stasiun klimatologi/meteorologi merupakan taman tempat peralatan yang mengukur unsur – unsur iklim/cuaca kontinyu. Ia merupakan lapangan laus sesuai dengan banyak dan macam alat yang ada di dalamnya. Dimana stasiun ini dibedakan menjadi beberapa kelas yaitu : stasiun klimatologi kelas I, II, III, IV, SMPK dan stasiun hujan.(S. Nur Muin,2009)  Stasiun klimatologi kelas 1 Yaitu suatu stasiun iklim yang paling lengkap mengamati hampir semua unsur iklim/cuaca dengan periode pengamatan lebih rapat (misalnya pengamatan tiap 2 jam). Stasiun ini merupakan bagian pengamatan iklim global seluruh permukaan bumi.  Stasiun klimatologi kelas 2 Merupakan stasiun iklim lengkap, juga berfungsi sebagai pelengap stasiun kelas 1  Stasiun klimatologi kelas 3 Merupakan stasiun iklim yang hanya mengamati unsur iklim pendukung stasiun kelas 1 atau kelas 2  Stasiun meteorology pertanian khusus ( kelas IV) Stasiun ini didirikan untuk jangka waktu tertentu dengan tujuan mengamati beberapa unsure cuaca saja atau meneliti fenomena alam yang khusus.  Stasiun Meteorologi pertaniaan Khusus (SMPK) SMPK merupakan stasiun yang didirikan teritama untuk mendukung pengembangan pertanian suatu daerah.  Stasiun hujan Stasiun ini merupakan stasiun yang hanya mengamati curah hujan suatu tempat. Alat klimatologi atau meteorologi agar dapat terlindungi dari hujan, debu dan sebagainya. Alat meteorologi biasanyan mempunyai sifat umum sebagai berikut : a. Harus teliti mungkin b. Harus peka agar diperoleh ketelitian yang tinggi c. Harus kuat dan tahan lama agar dapat memberikan pelayanan dalam jangka panjang d. Harus mudah dipakai sederhana e. Biasanya mempunyai harga murah karena di dalam penelitian klimatologi diperlukan alat yang dipasang dalam jumlah besar. Unsur cuaca dan iklim utama seperti suhu udara, kelembaban udara, curah hujan, tekanan udara, angin, durasi sinar matahari, dan beberapa unsur iklim yang kurang penting. Faktor yang mempengaruhi unsur iklim sehingga dapat membedakan iklim di suatu tempat dengan iklim di tempat lain disebut kendali iklim. Matahari adalah kendali iklim yang sangat penting dan sumber energi di bumi yang menimbulkan gerak udara dan arus laut.. Kendali iklim yang lain, misalnya distribusi darat dan air, sel semi permanen tekanan tinggi dan rendah, massa udara, pegunungan, arus laut, dan badai (Bayong Tjasyono HK, 2004). Stasiun iklim/cuaca didirikan dengan tujuan antara lain agar ketepatan dan keamanan data yang diperoleh terjamin. Unsur-unsur yang diamati diharapkan menggambarkan keadaan umum iklim/cuaca setempat. Untuk itu stasiun dibangun pada lokasi yang dapat mewakili keadaan sekitarnya secara luas dengan menghindari lokasi yang ekstrim ( Penuntun Praktikum Agroklimatologi 2009). Stasiun Klimatologi Pertanian Stasiun ini tidak tercantum dalam buku pedoman WMO( world meteorological organization).namun berdasarkan pengertian tentang meteorology pertanian yang mampu melakukan pengamatan cuaca dan biologi dalam jangka waktu panjang dan teratur. Stasiun klimatologi pertanian harus ditempatkan pada titik jaringan pengamatan iklim internasional paling sedikit dalam jangka waktu 10 tahun tidak boleh dipindah. Oleh karena itu lokasi tersebut untuk mewaakili lingkungannya tidak mudah berubah sehiingga mutu data dapat terjamin dengan baik. Jaringan Stasiun Jaringan pengamatan meteorology pertanian terdiri atas sejumlah stasiun yang meliputi suatu daerah. Factor-faktor yang perlu dipertimbangkan dalam penempatan kelas dan jumlah stasiun disuatu daerah tergantung luasan keragaman tipe iklim jenis tanah,corak pertanian dan ragam vegetasi. Penempatan suatu stasiun hendaknya benar-benar mewakili suatu daerah peertanian yang luas. Agar kebenaran dan keterampilan data terhadap sekitar dapat dipenuhi serta keamanan peralatan dapat terjamin maka suatu stasiun harus memenuhi beberapa persyaratan. Syarat-syarat tersebut antara lain :  Mewakili keadaan iklim seluas mungkin kawasan wilayah yang dinginkan  Stasiun dibuat pada sebidang lahan datar dengan ditanami rumput seragam setinggi 5 cm  Stasiun harus bebas dari penghalang  Faktor lingkungan yang bersifat khusus seperti : rawa, sungai, danau, gunung, harus dihindari dan untuk daerah seperti itu harus dibuat stasiun tambahan. Klimatologi merupakan ilmu tentang atmosfer. Mirip dengan meteorologi, tapi berbeda dalam kajiannya, meteorologi lebih mengkaji proses di atmosfer sedangkan klimatologi pada hasil akhir dari proses-proses atmosfer. Klimatologi berasal dari bahasa Yunani Klima dan Logos yang masing2 berarti kemiringan (slope) yg di arahkan ke Lintang tempat sedangkan Logos sendiri berarti Ilmu. Jadi definisi Klimatologi adalah ilmu yang mencari gambaran dan penjelasan sifat iklim, mengapa iklim di berbagai tempat di bumi berbeda , dan bagaimana kaitan antara iklim dan dengan aktivitas manusia. Karena klimatologi memerlukan interpretasi dari data2 yang banyak dehingga memerlukan statistik dalam pengerjaannya, orang2 sering juga mengatakan klimatologi sebagai meteorologi statistik (Tjasyono, 2004) Alat pengukur Unsur Iklim 1. Alat Pengukur Suhu Udara Thermometer maksimum adalah thermometer air raksa yang diletakan mendatar agak miring keatas karana adanya tegangan permukaan. Thermometer minimum menggunakan zaat cair alcohol. Thermohigrograf adalah alat yang dapat mencatat suhu dan kelembpan udara dengan sendirinya secara kontinu. 2. Alat Pengukur Suhu Tanah Suhu tanah diukur dengan thermometer tanah pada keadalaman tanah yang berbeda misalnya 5,10,20,30,50, dan 100 cm. untuk mengukur suhu tanah pada kedalaman kurang dari 50 cm dipakai thermometer tanah yang dibengkokan dan skalanya menghadap keatas sehingga mudah dibaca tanpa mengganggu termometernya. 3. Alat Pengukur Kelembapan Udara Kelembapan udara dapat diukur dengan psikometer yang terdiri dari thermometer bola kering dan bola basah. Alat ini ditempatkan dalam sangkar meteorology dalam kedudukan tegak. Bola yang mengandung air raksa dari thermometer bola basah dibungkus dengan kain yang dibasahi terus-menerus dengan air destilasi melalui benang yang tercelup pada sebuah mangkok air yang kecil. 4. Alat Pengukur Tekanan Udara Kenyataan bahwa atmosfer mempunyai berat, dan karenanya mempunyai tekanan, yang pertama kali diketahui oleh Galileo dan toricelli. Pada tahun 1643 toricelli menunjukan bahwa tekanan atmosfer paras laut, dapat mendukung air raksa setingi kira-kira760 mm. air raksa merupakan fluida yang dipakai dalam barometer karena alas an sebagai berikut:  Masa jenisnya besar sehingga panjang kolomnya memadai.  Tekanan uapnya sedemikian kecil pada suhu kamar sehingga dapat diabaikan tetapi ketelitian pengukuran tetap tinggi.  Air rasa mudah dibersihkan .  Air raksa tidak membasahi dinding tabung. 5. Alat Pengukur Hujan Jenis penakar hujan. Alat untuk mengukur jumlah curah hujan dinamakn pluviometer atau penakar hujan. Ada dua jenis penakar hujan yaitu penakar hujan biasa, dan penakar hujan otomatis 6. Alat Pengukur angin Alat yang mengukur arah angin disebut WINVANE, dan yang mengukur kecepatan angin disebut anemometer atau cup anemometer, dan alat yang dapat mencatat kecepatan angiin disebut anemograf. Iklim merupakan salah satu faktor pembatas dalam proses pertumbuhan dan produksi tanaman. Jenis2 dan sifat2 iklim bisa menentukkan jenis2 tanaman yg tumbuh pada suatu daerah serta produksinya. Oleh karena itu kajian klimatologi dalam bidang pertanian sangat diperlukan. Seiring dengan dengan semakin berkembangnya isu pemanasan global dan akibatnya pada perubahan iklim, membuat sektor pertanian begitu terpukul. Tidak teraturnya perilaku iklim dan perubahan awal musim dan akhir musim seperti musim kemarau dan musim hujan membuat para petani begitu susah untuk merencanakan masa tanam dan masa panen. Untuk daerah tropis seperti indonesia, hujan merupakan faktor pembatas penting dalam pertumbuhan dan produksi tanaman pertanian. Selain hujan, unsur iklim lain yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman adalah suhu, angin, kelembaban dan sinar matahari. Setiap tanaman pasti memerlukan air dalam siklus hidupnya, sedangkan hujan merupakan sumber air utama bagi tanaman. Berubahnya pasokan air bagi tanaman yg disebabkan oleh berubahnya kondisi hujan tentu saja akan mempengaruhi siklus pertumbuhan tanaman. Itu merupakan contoh global pengaruh ikliim terhadap tanaman. Di indonesia sendiri akibat dari perubahan iklim, yaitu timbulnya fenomena El Nino dan La Nina. Fenomena perubahan iklim ini menyebabkan menurunnya produksi kelapa sawit. Tanaman kelapa sawit bila tidak mendapatkan hujan dalam 3 bulan berturut-turut akan menyebabkan terhambatnya proses pembungaan sehingga produksi kelapa sawit untuk jangka 6 sampai 18 bulan kemudian menurun. Selain itu produksi padi juga menurun akibat dari kekeringan yang berkepanjangan atau terendam banjir. Akan tetapi pada saat fenomea La Nina produksi padi malah meningkat untuk masa tanam musim ke dua. Selain hujan, ternyata suhu juga bisa menentukkan jenis-jenis tanaman yg hidup di daerah-daerah tertentu. Misalnya perbedaan tanaman yang tumbuh di daerah tropis, gurun dan kutub. Indonesia merupakan daerah tropis, perbedaan suhu antara musim hujan dan musim kemarau tidaklah seekstrim perbedaan suhu musim panas dan musim kemarau di daerah-daerah sub tropis dan kutub. Oleh karena itu untuk daerah tropis, klasifikasi suhu lebih di arahkan pada perbedaan suhu menurut ketinggian tempat. Perbedaan suhu akibat dari ketinggian tempat (elevasi) berpengaruh pada pertumbuhan dan produksi tanaman. Sebagai contoh, tanaman strowbery akan berproduksi baik pada ketinggian di atas 1000 meter, karena pada ketinggian 1000 meter pebedaan suhu antara siang dan malam sangat kontras dan keadaan seperti inilah yg dibutuhkan oleh tanaman strowbery. BAB III METODOLOGI 3.1. Alat dan Bahan  Stasiun iklim  Seluruh peralatan pengukur unsur iklim/cuaca yang ada di laboratorium dan di stasiun. 3.2. Cara Kerja  Praktikan mengamati sangkar stasiun klimatologi.  Memperhatikandan mengamati kondisi disekitar stasiun klimatologi apakah sudah memenuhi syarat atau belum untuk dipergunakan.  Memperhatikan alat-alat klimatologi yang terdapat didalam stsiun tersebut dan cara menggunakannya.  Mencatat fungsi dari masing-masing alat klimatologi yang terdapat didalam stasiun tersebut.  Praktikan mengamati cara kerja dari masing-msing alat klimatologi. BAB IV PEMBAHASAN Dari hasil pengamatan yang di lakukan pada dua stasiun yaitu stasiun manual dan stasiun otomatik, pada stasiun manual terdapat alat pengukur curah hujan yang dinamakan ombrometer, pengamatan dilakukan kurang lebih 12 jam. pada tempat di mana ombrograf ini berada adapun luas lahannya kurang lebih 10x10 meter dan permukaan tanah tidak rata, Ombrograf mempunyai luas permukaan 100 m2 dengan peletakan alat setinggi 120 cm dari permukaan tanah, Dan pada stasiun ini juga terdapat sangkar cuaca yang merupakan rumah atau kotak berventilasi yang digunakan untuk melindungi alat yang peka terhadap pengaruh langsung keadaan luar atau gangguan luar yang menyebabkan alat tidak menggambarkan keadaan yang sebenarnya dari unsur yang diukur. Alat tersebut antara lain termometer udara, hygrometer, termograf, hygrograf, evavorimeter piche, dan lain-lain. Sangkarnya harus mempunyai ventilasi yang baik agar pengukuran udara luar terwakili secara tepat. Sedangkan pada stasiun otomatik terdapat alat ukur curah hujan yang disebut Omrograf, fungsinya sama seperti Ombrometer tapi, cara kerjanya lebih cepat dan praktis dari pada ombrometer, karena ombrograf merupakan alat otomatis. Stasiun otomatik merupakan stasiun multi fungsi yakni dalam satu alat terdapat tiga fungsi yaitu untuk mengukur curah hujan, kelembaban, dan untuk mengukur kecepatan angin, adapun nama alatnya antara lain: Higrometer, aninograf, dan ombrograf. Luas stasiun ini berkisar 5x5 m dan keberadaannya 120 cm dari permukaan tanah. ¬ BAB V KESIMPULAN  Stasiun yang baik untuk dipergunakan adalah stasiun yang memenuhi syarat baik dari lokasinya yang memadai dan tinggi rumputnya 5cm serta alat-alat yang lengkap sehingga data-datanya menjadi akurat sehingga tidak terjadi kesalahan.  Pada pengamatan yang dilakukan tedapat 2 stasiun yaitu stasiun penakar hujan dan stasiun otomatis.  Ada 2 jenis penakar hujan otomatis,yatu jenis sifon dan jenis penampung timbangan.  Jenis penakar hujan biasa terdapat keran untuk mengeluarkan air hujan yang akan diukur pada gelas ukur.  Alat pengukur radiasi matahari disebut piranometer,alat pengukur durasi penyinaran matahari disebut Campbell-stokes,alat pengukur arah angin disebut windvane. BAB VI TINJAUAN PUSTAKA file://localhost/C:/Documents%20and%20Settings/WELCOME/My%20Documents/alat%20agroklimat/Klimatologi%20untuk%20Pertanian%20«%20La%20An.htm Nur Muin,S . 2009. Penuntun praktikum agroklimatologi. Laboratorium Agroklimatologi ; Bengkulu Tjasyono. 1999. Klimatologi umum. ITB; Bandung Acara 1

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS